Simulasi Tes Subtantif Part 2

Sudah beberapa hari baru sempat menyambung tulisan Simulasi Tes Subtantif part 1,  semoga belum  terlalu lama dan basi duluan.

Setelah membaca tulisan-tulisan essay para peserta akhirnya, tanggal 22 mei 2016 saya beserta tim menginterview setidak 11 peserta. 3 Kandidat doktor, dan 9 kandidat master. namun tidak semua hadir.  too bad some  didnt come for such a nice experience, especially we have learnt so hard about their essay and try to fit the shoes to ask them the proper questions by learning their background deeply.

anyway, ketika melakukan interview, ternyata pribadi-pribadi orang itu bisa berbeda dengan apa yang kita bayangkan melalui tulisannya. Sebagai interviewer, pada beberapa esai yang ditulis dengan menyedihkan, saya berpikir akan menemui orang yang kurang antusias, namun yang terjadi justru orang tersebut adalah orang yang ceria dan energik. Dan kebalikannya, yang dalam tulisannya terlihat antusias, di dalam kenyataannya justru seorang yang pendiam dan ringan. Memang kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya. eh atau dari esaynya? tapi memang ada sebuah penelitian mengenai hal ini yang menunjukkan, penampilan seseorang cenderung berkebalikan dengan aplikasi yang dia sodorkan pada interviewer. kok bisa ya?

Anyway  namanya juga interview simulasi, banyak peserta tidak terlihat datang dengan their best effort, mungkin karena mereka juga tidak punya bayangan seperti apa tes subtantif sebenarnya. Kelihatan dari cara menjawab interview yang tidak terarah, dan tidak menangkap inti pertanyaan. Padahal ketika interview harusnya interviewee memfokuskan otaknya hingga penggunaan 100%. Ini tidak hanya berlaku bagi kandidat master, namun justru juga terjadi pada kandidat doktor. Musti diingat bahwa interview merupakan proses konfirmasi, terkadang interviewer menanyai pertanyaan yang sama pada jeda waktu berbeda, dan kamu memberikan 2 jawaban yang berbeda, hal ini menunjukkan ketidak konsistenan dan kurangnya menguasai lapangan. Bahaya banget kan! untung cuma simulasi. contohnya pertanyaannya sederhana, seperti berapa biaya kuliah di universitas ini dalam setahun?

Sebelumnya saya juga menyebutkan sebuah esai yang cemerlang, pemilik esai ini adalah peserta yang mendaftar di malam esoknya hari H. saya sempat bingung ingin menerima atau tidak, karena kesulitan mengatur jadwal. Akhirnya karena tambahan peserta akan memakan jadwal interviewer lebih banyak, dan salah satu tim harus mengalah, maka saya relakan tim saya yang timpang karena kekurangan orang di saat-saat terakhir, menerima satu lagi interviewee. Untung saja esaynya menarik dibaca. Menarik disini sebenarnya sederhana, dimana di esay yang ditulisnya tidak ada kata keluhan sedikitpun. sesungguhnya mendengarkan keluhan apalagi melalui banyak esay, amat melelahkan. Penulisnya optimis, dan menulis dengan profesional sebagaimana ia berfokus menjawab pertanyaan dari masing-masing tema esay tersebut, tanpa menyertai kisah-kisah gagal di belakangnya, sebagaimana esai-esai lainnya.

Ketika tim kami menginterview peserta tersebut, orangnya kecil, bersahaja, dan tenang. walaupun interviewnya tidak sesempurna esaynya, namun terlihat adanya potensi. Tidak heran di tes subtantif yang asli, ia pun lulus.

ada interviewee yang menarik, yang jungkir balik antara hasil interview waktu simulasi dan hasil interview sebenarnya. besambung

download

sumber: static1.squarespace.com

 

 

Baca Juga:

Simulasi Tes Subtantif part 1

PERTANYAAN WAWANCARA BEASISWA LPDP DAN JAWABANNYA Tips dan Trick